Cegah Ulat Bulu dengan musuh Alami

Cegah Wabah Ulat dengan Musuh Alami

Wabah ulat bulu (Arctornis submarginata) yang melanda Probolinggo beberapa waktu lalu telah meludeskan 14.813 pohon mangga di 9 kecamatan hanya dalam waktu 1 minggu. Bahkan, satu pohon mangga daunnya tandas hanya dalam waktu 2 malam. Belum pernah dilaporkan sebelumnya, ulat menimbulkan kerusakan berat pada mangga. Sehingga, kini ulat dikategorikan sebagai hama baru. Bahkan sebuah buku terbitan 1941 Een Beknopt Overzicht van de Plagen van de Mangga (Hama-hama pada Tanaman Mangga di Hindia Belanda) sama sekali tidak menyebutkan ulat Arctornis submarginata sebagai hama mangga.

Ketidakseimbangan Ekosistem

Selama ini, populasi A. submarginata luput dari perhatian karena serangannya jauh dibawah tingkat kerugian. Terkendalinya perkembangan ulat ini akibat tersedianya musuh-musuh alami ulat, yaitu burung pemakan ulat, kepik atau kumbang predator, dan parasitoid. Namun, hujan yang berkepanjangan sepanjang tahun 2010 menyebabkan musuh alami, khususnya parasitoid, sulit menemukan inang sehingga banyak yang mati. Akibatnya, menjelang musim kemarau saat terjadi peningkatan populasi ulat, musuh alami yang masih bertahan hidup tidak mampu mengatasi lonjakan jumlah ulat. Ketidakseimbangan antara populasi ulat dan musuh alami itu yang diduga menjadi penyebab utama meledaknya populasi ulat di Probolinggo.

Adanya migrasi ngengat memperkuat penyebab meledaknya populasi ulat. Ngengat yang merupakan hewan nokturnal, bermigrasi ke pemukiman karena tertarik cahaya lampu. Kemudian mereka meletakkan telur pada pohon mangga yang banyak tumbuh di halaman warga lalu menetas jadi ulat. Dari pengamatan di lapangan, ulat yang menyerang mangga di Probolinggo memiliki ukuran dan umur yang sama. ltu menunjukkan asal-muasal ulat dari ngengat yang bermigrasi. Migrasi ngengat dipicu oleh persediaan makanan ngengat yang berkurang di tempat sebelumnya.

Siklus hidup A. submarginata terbilang singkat, yaitu 4-5 minggu. Pada awal April 2011, serangan A. submarginata telah mereda karena sebagian besar ulat memasuki fase kepompong. Namun hal ini patut diwaspadai karena pada fase berikutnya ngengat akan mencari pohon mangga sehat untuk meletakkan telurnya.

Untuk menghindari serangan baru, bila menemukan banyak kepompong menempel di permukaan daun, sebaiknya kumpulkan dalam sebuah botol yang dilubangi dan ditutup kain kasa, Biarkan selama seminggu. Jika kepompong tumbuh menjadi ngengat, segera musnahkan. Bila yang muncul parasitoid berupa tawon kecil, lepaskan ke alam agar berkembang meniadi musuh alami untuk pengendalian ekosistem.

Ada fakta menarik. Banyak kepompong A, submarginata mati dan berwarna kehitaman. Dari kepompong keluar parasitoid yang didominasi tawon jenis Brachymeria sp.  Parasitoid dari golongan Hymenoptera itu meletakkan telur pada dalam tubuh ulat A. submarginata lalu keluar sebagai tawon kecil saat ulat menjadi kepompong.  (Suara merdeka , Sabtu 18 Juni 2001)

Artikel terkait :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: